Cedera Mengerikan Atlet Olimpiade Musim Dingin yang Disembunyikan

Author Image

Ais Nurdin

26 Februari 2026, 15:54 WIB

Di balik kemilau Olimpiade Musim Dingin, terdapat harga yang harus dibayar mahal oleh para atlet, sebuah kenyataan yang kerap luput dari sorotan . serius, bahkan yang tak selalu tergolong besar, menjadi risiko yang selalu mengintai para atlet kelas dunia.

Saat penonton terpukau oleh kecepatan dan ketepatan gerakan, tubuh para atlet justru dipaksa mencapai batas maksimal kemampuan manusia. Peringatan keras kembali mengemuka tahun ini. Lindsey Vonn mengalami patah kaki setelah terjatuh hanya 13 detik setelah memulai nomor downhill. Favorit , Ilia Malinin, juga merasakan dampak fatal dari sebuah saat sesi free skate.

Sebelumnya, atlet short track asal Polandia, Kamila Sellier, mengalami luka sayatan serius di wajahnya akibat insiden pada Jumat lalu. Sellier terjatuh bersama peraih 14 medali Olimpiade asal , Arianna Fontana, dan atlet Kristen Santos-Griswold.

Santos-Griswold kemudian dikenai penalti karena melakukan perpindahan jalur secara ilegal yang turut memicu tabrakan tersebut, sehingga ia gagal melaju dari babak perempat .

Menurut laporan , atlet Polandia itu membutuhkan perawatan yang cukup lama di atas lintasan sebelum akhirnya dikeluarkan dari arena menggunakan tandu dari Milano Ice Skating Arena. Insiden tersebut meninggalkan jejak darah di tikungan terakhir lintasan, yang harus segera dibersihkan oleh petugas selama jeda pertandingan.

Risiko Cedera Tinggi dalam Olimpiade Musim Dingin

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sports Science and Medicine mengungkapkan bahwa atlet Olimpiade Musim Dingin memiliki tingkat yang tinggi. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh benturan keras, tetapi juga oleh penggunaan peralatan performa tinggi yang jika tidak pas atau salah pemakaian, justru meningkatkan risiko cedera.

Cabang dengan tingkat cedera tertinggi meliputi freestyle skiing, snowboarding, alpine skiing, bobsleigh, dan ice hockey. Cedera yang paling sering terjadi adalah pada lutut, tulang belakang/punggung, serta pergelangan tangan/tangan. Memar, keseleo, dan salah urat juga umum dialami oleh para atlet.

Baca Juga :  Tottenham di Ujung Tanduk! 7 'Final' Penentu Nasib Liga Primer

Namun, yang paling mengejutkan adalah cedera khas musim dingin yang kerap tidak terdeteksi.

“Sled Head”: Gangguan Otak yang Jarang Dibahas

Melansir Euronews, dalam luncur seperti bobsleigh, luge, dan skeleton, para atlet melaju di lintasan es dengan kecepatan lebih dari 80 km/jam. Gegar otak memang merupakan cedera yang umum terjadi. Riset yang dipublikasikan di Frontiers in Neurology mencatat bahwa 13 hingga 18 persen atlet sledging terdampak gegar otak.

Namun, ada kondisi lain yang lebih senyap yang dikenal sebagai “sled head”. Istilah ini muncul dari para atlet untuk menggambarkan sakit kepala, perasaan berkabut (foggy), hingga gangguan keseimbangan, yang sering kali dipicu oleh lintasan yang bergelombang atau terlalu banyak melakukan sesi latihan.

Minimnya pemberitaan dan riset mengenai kondisi ini membuatnya kerap dianggap sepele, padahal efek kumulatifnya dapat sangat mengkhawatirkan. Upaya pencegahan kini mulai digarap. German Bobsleigh and Sled Association bersama Allianz Center for Technology memamerkan inovasi keselamatan di Milano Cortina.

Salah satunya adalah Allianz Safety Sled yang dilengkapi sistem HIP (Head Impact Protection). Sistem ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan tanpa mengubah sensasi olahraga. Implementasinya tidak memerlukan pembangunan sled baru, namun masih menunggu persetujuan dari International Bobsleigh and Skeleton Federation.

Baca Juga :  Dominasi Madrid Sia-Sia: Arbeloa Frustrasi Berat Kontra Girona!

“Skier’s Thumb”: Cedera Kecil yang Sering Diremehkan

Cedera lain yang sering kali diabaikan adalah “skier’s thumb”, yaitu robekan pada ligamen kolateral ulnar di pangkal ibu jari. Cedera ini biasanya terjadi saat atlet terjatuh dengan tangan terentang sambil memegang tongkat ski.

Pemain snowboard jarang mengalami cedera ini, yang semakin memperkuat dugaan bahwa tongkat ski merupakan pemicu utamanya. Ironisnya, meskipun cedera ekstremitas atas menyumbang sekitar 14 persen dari total cedera ski, dan cedera lutut tetap menjadi yang paling umum, penelitian menunjukkan bahwa skier’s thumb bisa jadi cedera ski yang paling sering terjadi namun kurang dilaporkan.

Hal ini terjadi karena cedera ini sering dianggap tidak serius. Penanganan ringan seperti metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) seringkali cukup. Namun, kasus dengan kelonggaran yang signifikan membutuhkan intervensi operasi.

Inovasi keselamatan dan peningkatan kesadaran medis menjadi sangat krusial agar olahraga musim dingin tetap memukau tanpa harus mengorbankan masa depan para atlet.

Related Post