Waspada! Cacing Mengintai, Jangan Sampai Fatal!

Author Image

Ais Nurdin

15 Januari 2026, 18:03 WIB

Dunia medis kembali digemparkan dengan kasus infeksi parasit yang merenggut nyawa seorang balita berusia 3 tahun di Sukabumi, Jawa Barat. Kejadian ini menjadi pengingat betapa seriusnya masalah kesehatan masyarakat yang seringkali dianggap remeh, yaitu infeksi cacing parasit atau yang dikenal secara ilmiah sebagai helminthiasis. Penyakit ini, meskipun seringkali ringan, dapat berkembang menjadi masalah serius yang mengancam jiwa, terutama di wilayah dengan sanitasi yang buruk.

Kasus di Sukabumi ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam tentang berbagai jenis cacing parasit yang dapat menyerang manusia, cara penularannya, serta dampaknya bagi kesehatan. Dengan memahami hal ini, kita dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang tepat untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari bahaya infeksi cacing.

Klasifikasi Utama Cacing Parasit pada Manusia

Cacing parasit, atau helminths, diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok utama berdasarkan bentuk tubuh, struktur internal, dan siklus hidupnya. Berikut adalah klasifikasi utama yang perlu kita ketahui:

1. Filum Nematoda (Cacing Gilig atau Cacing Gelang)

Nematoda adalah kelompok cacing parasit yang paling umum menginfeksi manusia di seluruh dunia. Cacing ini memiliki bentuk tubuh silindris, atau gilig, yang tidak bersegmen dengan ujung yang meruncing. Mereka memiliki sistem pencernaan yang lengkap, mulai dari mulut hingga anus.

Contoh Umum Spesies Nematoda:

Cacing Gelang Raksasa (Ascaris lumbricoides)

Cacing gelang raksasa adalah cacing usus terbesar yang dapat menginfeksi manusia. Panjangnya bisa mencapai hingga 35 cm. Penularannya terjadi melalui jalur fekal-oral, di mana manusia menelan telur infektif yang mencemari tanah, makanan, atau minuman. Infeksi ini sangat umum terjadi pada anak-anak.

Penyakit yang disebabkan oleh cacing gelang raksasa disebut ascariasis. Gejala yang timbul dapat berupa sakit perut, malnutrisi, dan dalam kasus infeksi berat, dapat menyebabkan penyumbatan usus. Pentingnya menjaga kebersihan makanan dan lingkungan sangat krusial untuk mencegah penyebaran cacing ini.

Cacing Kremi (Enterobius vermicularis)

Cacing kremi adalah cacing kecil berwarna putih yang berukuran sekitar 1 cm. Penularan cacing kremi terjadi melalui penelanan telur mikroskopis yang sangat ringan dan mudah menyebar melalui kontak langsung, pakaian, atau debu di lingkungan rumah. Hal ini menjadikan cacing kremi sangat mudah menular, terutama di lingkungan yang padat penduduk.

Infeksi cacing kremi dikenal sebagai enterobiasis. Gejala yang paling umum adalah rasa gatal hebat di sekitar anus, terutama pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh cacing betina yang bertelur di area tersebut. Anak-anak yang terinfeksi seringkali merasa tidak nyaman dan terganggu tidurnya akibat gatal tersebut.

Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

Cacing tambang memiliki ciri khas berupa “gigi” atau lempeng pemotong di mulutnya yang berfungsi untuk menempel pada dinding usus dan mengisap darah. Larva infektif cacing tambang dapat menembus kulit manusia, biasanya melalui telapak kaki, yang sering terjadi pada mereka yang berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi.

Penyakit yang disebabkan oleh cacing tambang disebut ancylostomiasis, yang merupakan penyebab utama anemia defisiensi besi di daerah endemis. Cacing ini mengisap darah dari inangnya, sehingga menyebabkan kekurangan zat besi yang vital bagi tubuh. Dampaknya bisa sangat serius, terutama pada anak-anak dan wanita hamil.

Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Cacing cambuk memiliki bentuk unik seperti cambuk, dengan bagian depan yang tipis dan panjang, serta bagian belakang yang lebih tebal. Penularannya terjadi melalui penelanan telur cacing yang berasal dari tanah yang terkontaminasi.

Trichuriasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing cambuk. Pada infeksi berat, penyakit ini dapat menyebabkan diare berdarah, sakit perut, dan bahkan prolaps rektum pada anak-anak. Pencegahan yang efektif melibatkan praktik kebersihan yang baik, termasuk mencuci tangan secara teratur dan mengolah makanan dengan benar.

2. Filum Platyhelminthes (Cacing Pipih)

Cacing pipih memiliki ciri khas tubuh yang pipih (dorsoventral) dan tidak memiliki rongga tubuh. Sistem pencernaan mereka tidak lengkap (tidak memiliki anus) atau bahkan tidak ada sama sekali. Filum ini dibagi lagi menjadi dua kelas utama yang bersifat parasit pada manusia.

a. Kelas Cestoda (Cacing Pita)

Cacing pita memiliki tubuh pipih panjang yang terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang disebut proglottid. Kepala cacing pita, yang disebut scolex, memiliki kait atau alat isap yang digunakan untuk menempel pada dinding usus. Cacing pita dewasa tidak memiliki sistem pencernaan dan menyerap nutrisi langsung dari usus inangnya.

Penularan cacing pita umumnya terjadi melalui konsumsi daging mentah atau setengah matang, seperti daging sapi, babi, atau ikan, yang mengandung larva cacing. Konsumsi makanan yang tidak dimasak dengan benar menjadi faktor risiko utama penularan penyakit ini.

Contoh Umum Spesies Cestoda:

Cacing Pita Sapi (Taenia saginata): Penularannya melalui konsumsi daging sapi yang terinfeksi.

Cacing Pita Babi (Taenia solium): Penularannya melalui daging babi.

Infeksi larva cacing pita, yang disebut sistiserkosis, jauh lebih berbahaya karena larva dapat bersarang di otot, mata, dan otak, menyebabkan kejang atau gangguan neurologis. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memasak daging dengan benar untuk mencegah risiko infeksi cacing pita.

b. Kelas Trematoda (Cacing Isap atau Flukes)

Cacing isap memiliki tubuh pipih berbentuk seperti daun dan tidak bersegmen. Mereka memiliki satu atau lebih alat isap (sucker) untuk menempel pada jaringan inang. Siklus hidup cacing isap seringkali kompleks dan melibatkan inang perantara, seperti siput air, sebelum dapat menginfeksi manusia.

Penularan cacing isap bervariasi tergantung spesiesnya, bisa melalui kontak dengan air yang terkontaminasi larva atau memakan tumbuhan air atau hewan air mentah yang terinfeksi. Menghindari konsumsi makanan dan minuman yang berisiko terkontaminasi merupakan langkah penting dalam pencegahan.

Contoh Umum Spesies Trematoda:

Cacing Darah (Schistosoma sp.): Larva cacing darah masuk ke dalam tubuh dengan menembus kulit saat kontak dengan air tawar yang terkontaminasi. Penyakit yang disebabkan adalah skistosomiasis yang merusak organ dalam seperti hati dan kandung kemih.

Cacing Hati (Fasciola hepatica): Penularan terjadi melalui konsumsi tumbuhan air mentah (seperti selada air) yang terkontaminasi larva cacing. Cacing hati menyebabkan kerusakan pada hati dan saluran empedu. Oleh karena itu, penting untuk memastikan kebersihan sayuran dan tumbuhan air sebelum dikonsumsi.

Related Post