Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mengumumkan pergeseran strategisnya dalam dua tahun terakhir, bertransformasi dari perusahaan telekomunikasi tradisional menjadi entitas teknologi yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif. Perubahan ini didorong oleh visi untuk tidak hanya mengoneksikan masyarakat, tetapi juga memperluas dampak positif teknologi bagi kehidupan sosial dan ekonomi.
VP Head of External Communication IOH, Eni Nur Ifati, menjelaskan bahwa fokus perusahaan kini bergeser dari aspek teknis infrastruktur telekomunikasi, seperti pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS) atau pemasangan kabel optik, menjadi nilai dan dampak yang dihasilkan dari teknologi tersebut. Konektivitas, menurut Eni, adalah kunci utama yang memungkinkan berbagai kemajuan.
“Semua itu memang bertujuan untuk mengoneksikan masyarakat, bahkan sampai ke pelosok. Tapi bagi kami, isu utamanya bukan sekadar teknologi atau BTS-nya, karena itu sudah biasa. Yang ingin kami tekankan adalah koneksi adalah enabler,” ujar Eni dalam acara media gathering di Puncak, Bogor, Selasa (02/12/2025).
Baca Juga
Lebih lanjut, Eni menegaskan bahwa infrastruktur seperti BTS, kabel laut, Wi-Fi, hingga jaringan 4G/5G hanyalah sarana. Inti dari pesan perusahaan adalah bagaimana teknologi ini dapat memperluas dampak sosial dan ekonomi, serta membuka akses yang sebelumnya terbatas bagi masyarakat luas.
Transformasi ini salah satunya tercermin dalam inisiatif Indosat AI North Star, yang bertujuan menjadikan IOH sebagai acuan utama dalam pengembangan dan adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. IOH berambisi menjadi pusat rujukan bagi solusi, pembelajaran, dan adopsi AI, tidak hanya untuk sektor bisnis, tetapi juga bagi ekosistem nasional secara keseluruhan.
Menyoroti urgensi pengembangan AI, Eni menyebutkan bahwa Indonesia diperkirakan membutuhkan 12 juta talenta AI hingga tahun 2030. Namun, jumlah talenta yang tersedia saat ini masih jauh dari angka tersebut, diperkirakan baru sekitar 300 ribu orang.
“Tetapi untuk mempercepat AI di Indonesia masih dibutuhkan talent dan ini merdesak,” tegas Eni.
Untuk mencapai tujuan tersebut, IOH membangun tiga peran utama AI dalam strateginya:
AI Native Telco
Peran pertama ini menitikberatkan pada integrasi AI dalam operasional, manajemen, dan jaringan telekomunikasi yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan yang diberikan.
AI Tech Company (TechCo)
Sebagai AI Tech Company, IOH akan menghasilkan berbagai layanan berbasis AI. Ini mencakup solusi cloud, keamanan digital, pencegahan penipuan (anti-scam/spam), monetisasi data, serta keamanan siber (cyber security).
AI Nation Shaper
Peran terakhir ini berfokus pada ekosistem AI dan pemberdayaan talenta AI. Tujuannya adalah mempercepat lahirnya talenta dan solusi AI lokal agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga sebagai pencipta solusi AI yang inovatif.
Melalui inisiatif AI Nation Shaper, Indosat berharap dapat mendorong terciptanya solusi-solusi AI yang berasal dari kreativitas anak bangsa. Eni mengungkapkan harapannya agar pusat-pusat pengalaman AI di masa depan tidak hanya menampilkan studi kasus dari luar negeri, tetapi juga memamerkan solusi AI yang dikembangkan oleh talenta lokal Indonesia.
“Kami berharap, suatu saat nanti, pusat-pusat pengalaman ini tidak hanya menampilkan use case dari luar negeri, tetapi solusi AI kreasi anak bangsa sendiri,” pungkas Eni.




