RunSight Bawa Terobosan Kacamata Tunanetra, Raih Pengakuan Global Top 20 SFT 2025

Author Image

Ais Nurdin

16 Januari 2026, 12:10 WIB

Tim Labmino, perwakilan Indonesia, berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam kompetisi Solve for Tomorrow (SFT) Global 2025. Inovasi mereka, RunSight, sebuah kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), berhasil menembus daftar 20 besar dunia. Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim, tetapi juga membuktikan potensi besar talenta muda Indonesia dalam menciptakan solusi teknologi yang berlandaskan empati.

Debut Indonesia di panggung SFT Global ini menjadi kisah inspiratif bagaimana sebuah gagasan sederhana dapat berkembang menjadi inovasi yang diakui secara internasional. Tim Labmino, yang terdiri dari Anthony Edbert Feriyanto, Kaindra Rizq Sachio, Muhammad Fazil, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim, mempersembahkan RunSight, sebuah alat bantu yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas tunanetra berlari dengan lebih aman dan mandiri.

RunSight lahir dari kepedulian mendalam terhadap teman dekat salah satu anggota tim yang kehilangan penglihatan, namun tetap memiliki semangat untuk berolahraga seperti individu lainnya. Menyadari minimnya alat bantu olahraga yang adaptif dan berbasis AI bagi penyandang tunanetra, tim ini terdorong untuk menciptakan sebuah solusi yang inklusif. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, kepercayaan diri, dan kebebasan bergerak bagi para pelari tunanetra.

Kaindra Rizq Sachio, selaku perwakilan Tim Labmino, menyampaikan bahwa ide RunSight berawal dari percakapan sederhana dengan seorang teman yang memiliki kondisi tersebut. “Kami percaya teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi semua orang,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025.

Lebih lanjut, Kaindra menyoroti masih terbatasnya inovasi olahraga yang memanfaatkan AI untuk komunitas tunanetra. Hal ini memicu semangat timnya untuk menciptakan solusi yang benar-benar relevan dan berdampak. “Saat akhirnya kami berdiri di panggung global membawa nama Indonesia, kami merasa ide kecil ini akhirnya menemukan tempat yang lebih besar dan berdampak,” ungkapnya.

Perjalanan RunSight hingga mencapai 20 besar global ini melalui serangkaian seleksi ketat. Tim Labmino harus melalui proses penjurian tingkat regional, bersaing dengan 39 tim dari berbagai regional di seluruh dunia. Wilayah yang terlibat mencakup Eropa, Asia Tenggara & China, Timur Tengah & Afrika Utara, Negara-negara Persemakmuran, serta Amerika Utara & Amerika Latin.

Setelah meraih juara pertama di Indonesia, Tim Labmino melanjutkan perjuangannya di tingkat regional. Seluruh tahapan seleksi ini dilaksanakan secara daring, melibatkan presentasi proyek di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara dalam ruang pertemuan virtual.

Anthony Edbert Feriyanto, Ketua Tim Labmino, mengungkapkan bahwa tahap regional membuka perspektif baru bagi timnya. “Meskipun dilakukan secara daring, atmosfernya berbeda sekali karena kami harus mempresentasikan proyek di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa standar penilaian yang meningkat menjadi tantangan tersendiri. “Itu menjadi tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri karena kami membawa nama Indonesia dan ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional,” ujar Anthony.

Pencapaian ini disambut baik oleh Samsung Electronics Indonesia. Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyatakan bahwa ini adalah bukti nyata bahwa talenta pelajar Indonesia mampu bersaing dan memberikan kontribusi di tingkat dunia.

“Tahun pertama Indonesia ikut SFT Global dan langsung masuk 20 besar dunia adalah pencapaian besar,” ujar Bagus. Ia menambahkan bahwa perjalanan Tim Labmino menunjukkan bahwa kolaborasi antara kreativitas, teknologi, dan empati dapat menghasilkan solusi yang relevan dan diakui secara internasional.

Hal ini sejalan dengan komitmen Samsung dan pemerintah dalam memperkuat literasi teknologi, mengembangkan talenta muda, dan membangun ekosistem inovasi yang inklusif. Bagus menegaskan bahwa semangat ini selaras dengan tujuan program SFT.

Selama proses seleksi regional, Tim Labmino tidak hanya mendapatkan bimbingan teknis, tetapi juga wawasan baru mengenai pengembangan ide melampaui konteks lokal. Masukan mendetail dari juri internasional dan paparan terhadap tim-tim lain membantu mereka menyempurnakan pendekatan dalam memecahkan masalah, mulai dari aspek teknis, pengalaman pengguna, hingga potensi kolaborasi dengan komunitas.

Wawasan yang diperoleh ini semakin memperkuat pemahaman mereka tentang dampak teknologi dan meningkatkan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan RunSight agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Perjalanan Tim Labmino dalam Samsung Solve for Tomorrow menjadi bukti nyata bahwa langkah pertama selalu merupakan yang paling penting. Hingga saat ini, tim inovator muda Indonesia ini telah menunjukkan kapasitas mereka sebagai perwakilan bangsa di kancah global. Mereka membawa pulang pengalaman internasional, perspektif baru, serta tekad yang semakin kuat untuk terus berkarya.

Perjalanan Tim Labmino dalam program Samsung Solve for Tomorrow masih berlanjut. Rangkaian seleksi dan tahapan berikutnya akan diumumkan pada Februari 2026 mendatang, membuka peluang bagi inovasi lebih lanjut dan potensi keberhasilan yang lebih besar.

Related Post