Rosenior Sulap Chelsea ala ‘Class of ’92’ MU!

Author Image

Ais Nurdin

18 Januari 2026, 05:11 WIB

Liam Rosenior, pelatih baru Chelsea, menyuarakan keyakinannya bahwa klub London Barat itu memiliki potensi untuk mengulang kesuksesan legendaris ‘Class of ’92’ . Kepercayaan ini dibangun di atas fondasi skuat muda yang dimiliki Chelsea saat ini, seiring dengan ambisi klub untuk kembali meraih trofi.

Rosenior akan memimpin debutnya sebagai pelatih utama The Blues dalam laga putaran ketiga FA Cup melawan Charlton Athletic pada Sabtu, 10 Januari. Chelsea sendiri musim ini memiliki skuat termuda di , dengan Tosin Adarabioyo menjadi pemain tertua di usia 28 tahun.

Meskipun pendahulunya, Enzo Maresca, sempat menganggap minimnya pengalaman dalam tim sebagai hambatan untuk menjaga konsistensi, Rosenior justru melihatnya sebagai peluang. Ia mengacu pada kesuksesan di era 1990-an, ketika Sir Alex Ferguson berani mempromosikan enam hingga tujuh pemain muda berusia 19-21 tahun ke tim utama. Generasi emas yang meliputi David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville, Phil Neville, Nicky Butt, dan Ryan Giggs itu kemudian menjelma menjadi tulang punggung dominasi United.

“Orang-orang mungkin akan mengkritik saya, tapi dulu saya penggemar Manchester United dan sekarang saya adalah penggemar berat Chelsea,” ujar Rosenior, yang sebelumnya juga memiliki pengalaman melatih tim muda di Strasbourg, Prancis.

Ia melanjutkan, “Saya ingat Sir Alex Ferguson cukup berani untuk memasukkan enam atau tujuh pemain berusia 19 hingga 21 tahun ke dalam timnya—tim juara—karena dia percaya pada mereka.”

“Hasilnya, mereka tumbuh dan memenangkan trofi demi trofi. Itu adalah periode luar biasa dalam sejarah klub tersebut. Tanpa keberanian itu, hal tersebut tidak akan pernah terjadi.”

Rosenior menambahkan, “Potensi itu ada di sini. Memang belum menjadi kenyataan, tapi potensinya nyata. Lihat saja Moises Caicedo, Enzo Fernandez, Cole Palmer, atau Reece James—pemain kelas dunia yang masih sangat muda.”

“Itulah ambisi tertinggi klub ini—untuk menciptakan momen itu kembali. Saya tidak bermaksud menjamin hal itu pasti terjadi. Tapi saya tidak akan membatasi ambisi klub ini.”

Ia menegaskan komitmennya, “Tugas saya, seperti yang sudah saya tunjukkan di Strasbourg, adalah bekerja dengan pemain muda, meningkatkan kemampuan mereka, sekaligus memenangkan pertandingan. Tidak ada alasan mengapa saya tidak bisa melakukannya di sini juga.”

Menanggapi pengingat bahwa generasi ‘Class of ’92’ didampingi oleh pemain senior berpengalaman seperti Peter Schmeichel dan , Rosenior menyatakan, “Ya, dan Anda akan melihat seiring berjalannya waktu apa yang akan terjadi di sini dan diskusi yang telah kami lakukan. Proyek ini adalah tentang menang.”

Ia menekankan, “Ini bukan soal apa pun selain mencoba mempersembahkan trofi bagi Chelsea. Saya akan bekerja sangat keras untuk itu. Apakah saya masih di sini dalam tiga, empat, atau lima tahun ke depan, saya yakin klub ini akan sukses untuk waktu yang lama.”

Rosenior juga menyoroti pengalaman yang dimiliki beberapa pemain muda Chelsea saat ini.

“Anda harus paham bahwa usia hanyalah satu hal. Di sini juga ada pengalaman. Enzo (Fernandez) adalah pemenang Piala Dunia dan seorang pemimpin di grup ini.”

“Reece (James) telah memenangkan gelar dan banyak hal lainnya. Saya punya pemain dengan pengalaman di sini. Meski usia mereka lebih muda, mereka telah merasakan kemenangan bersama. Itulah yang ingin saya gunakan untuk bergerak maju dan memotivasi mereka meraih lebih banyak prestasi di masa depan.”

Bisakah Chelsea Meniru ‘Class of ’92’ Manchester United?

Secara teori, gagasan untuk menjadikan Chelsea sebagai “Class of ’92” versi mereka sendiri sangatlah masuk akal. Visi pemilik Chelsea memang berfokus pada pengumpulan bakat-bakat terbaik dunia di bawah usia 23 tahun.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah perbandingan ini seimbang? Mari kita bedah lebih dalam.

Kekuatan Bakat yang Setara

Secara teknis, Chelsea tidak kekurangan talenta. Jika Manchester United di era 90-an memiliki bintang seperti David Beckham dan Paul Scholes, Chelsea kini memiliki Cole Palmer yang telah membuktikan diri sebagai pemain kelas dunia, serta Enzo Fernandez, seorang pemenang Piala Dunia.

Rosenior benar bahwa dari segi skill individu, jajaran pemain muda Chelsea saat ini termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Potensi mereka sangatlah nyata.

Faktor Pengalaman: Menepis Isu Bocah Ingusan

Liam Rosenior secara tegas menepis pandangan Enzo Maresca bahwa tim ini kurang pengalaman. Ia menyoroti fakta bahwa Enzo Fernandez dan Reece James telah merasakan kemenangan di level tertinggi, baik itu Piala Dunia maupun .

Perbedaan mendasar terletak pada proses pembentukan tim. ‘Class of ’92’ tumbuh bersama sejak akademi, sementara skuad Chelsea saat ini adalah kumpulan pemain muda yang dibeli dengan nilai transfer tinggi dari berbagai penjuru dunia. Tugas Rosenior menjadi jauh lebih berat karena ia harus membangun ikatan emosional dan pemahaman kolektif yang dulu terbentuk secara alami pada generasi Beckham dan kawan-kawan.

Keberanian ‘Ala’ Ferguson

Poin terkuat yang diangkat Rosenior adalah keberanian. Sir Alex Ferguson pernah menghadapi kritik pedas dengan ungkapan “You can’t win anything with kids,” namun ia berhasil membuktikannya salah. Rosenior tampaknya ingin meniru keberanian tersebut. Dengan kontrak berdurasi 6,5 tahun, ia memiliki waktu yang cukup untuk membiarkan para pemain muda ini berkembang bersama.

Visi Rosenior adalah sebuah paradoks yang berani. Chelsea memiliki “mesin-mesin canggih” berupa pemain-pemain mahal, namun Rosenior bertugas untuk meracik mereka menjadi satu kesatuan yang solid. Jika ia berhasil mematangkan mentalitas mereka seperti yang dilakukan Ferguson, maka era dominasi Chelsea bukanlah hal yang mustahil.

Apa Itu Class of ‘92

Class of ’92 adalah sebutan legendaris yang diberikan kepada sekelompok pemain muda Manchester United yang berhasil menembus tim utama dari akademi klub pada awal tahun 1990-an. Generasi ini menjadi pondasi kesuksesan luar biasa Manchester United di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.

Istilah ini merujuk pada pencapaian mereka menjuarai FA Youth Cup pada tahun 1992. Prestasi tersebut kemudian bertransformasi menjadi salah satu generasi pemain paling sukses dalam sejarah sepak bola dunia.

Enam nama ikonik yang menjadi inti dari kelompok ini adalah:

* David Beckham: Dikenal sebagai spesialis tendangan bebas dan ahli dalam memberikan umpan silang yang akurat.
* Ryan Giggs: Pemain sayap yang lincah. Meskipun ia masuk tim utama sedikit lebih awal, ia tetap dianggap sebagai bagian dari generasi ini.
* Paul Scholes: Gelandang jenius dengan visi bermain dan kemampuan operan yang luar biasa.
* Gary Neville: Bek kanan tangguh yang kemudian dipercaya menjadi kapten Manchester United.
* Phil Neville: Pemain serba bisa yang mampu ditempatkan di berbagai posisi di lini pertahanan.
* Nicky Butt: Gelandang petarung yang menunjukkan kedisiplinan tinggi di lini tengah.

Mengapa Mereka Begitu Terkenal?

Generasi ‘Class of ’92’ sangat terkenal karena beberapa alasan fundamental:

Menghancurkan Mitos: Pada tahun 1995, pengamat bola Alan Hansen pernah melontarkan pernyataan kontroversial, “You can’t win anything with kids” (Anda tidak bisa memenangkan apa pun dengan anak-anak). Namun, Sir Alex Ferguson justru memberikan kepercayaan penuh kepada mereka, dan hasilnya, United langsung meraih gelar Double Winner ( dan Piala FA) di musim tersebut.
Puncak Kejayaan (The Treble 1999): Generasi ini merupakan pemain inti saat Manchester United mencetak sejarah dengan meraih tiga trofi utama dalam satu musim pada tahun 1999, yaitu Premier League, Piala FA, dan .
Loyalitas Luar Biasa: Berbeda dengan tren pemain modern yang kerap berpindah klub, para anggota ‘Class of ’92’ bermain bersama di Manchester United selama bertahun-tahun, bahkan belasan tahun. Gary Neville, Paul Scholes, dan Ryan Giggs bahkan berhasil meraih status “One Club Man,” yang berarti mereka hanya membela satu klub sepanjang karier profesional mereka.
Produk Lokal: Semua anggota ‘Class of ’92’ adalah didikan asli akademi Manchester United. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara para pemain, klub, dan para pendukungnya.

Kaitannya dengan Chelsea & Liam Rosenior

Ketika Liam Rosenior menyamakan ambisi Chelsea dengan “Class of ’92,” ia mengisyaratkan keinginan untuk membangun sebuah sistem di mana para pemain muda Chelsea saat ini—seperti Cole Palmer, Enzo Fernandez, dan Reece James—dapat tumbuh dewasa bersama sebagai satu kesatuan tim. Ini berbeda dengan pendekatan yang kerap terlihat di era modern, yaitu terus-menerus membeli pemain bintang yang sudah matang dari klub lain.

Rosenior, yang dijuluki “The Professor,” menganalisis situasi ini dengan cermat.

Keunggulan Chelsea:

Dari segi statistik mentah, seperti gol dan assist, serta pengalaman di kancah internasional, para pemain muda Chelsea saat ini memiliki keunggulan dibandingkan ‘Class of ’92’ pada usia yang sama. Cole Palmer menjadi contoh nyata pemain muda yang levelnya sudah melampaui rata-rata pemain seusianya di era 90-an.

Keunggulan Class of ’92:

Koneksi batin yang kuat menjadi keunggulan utama ‘Class of ’92’ karena mereka tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama. Hal inilah yang belum sepenuhnya dimiliki oleh skuad Chelsea saat ini. Rosenior menghadapi tantangan untuk menyatukan pemain-pemain dari berbagai latar belakang budaya—seperti Argentina, Inggris, Ekuador, dan Brasil—agar memiliki kebersamaan seperti Beckham dan rekan-rekannya.

Tantangan Terbesar:

Generasi ‘Class of ’92’ dibimbing oleh para pemimpin tangguh seperti Eric Cantona dan . Di Chelsea, Rosenior perlu mengidentifikasi dan menumbuhkan figur pemimpin yang dapat mendampingi para pemain muda ini saat menghadapi situasi sulit di lapangan.

Secara bakat, Rosenior tidak berlebihan dalam optimismenya. Chelsea memiliki “bahan baku” yang mungkin bahkan lebih mewah daripada yang dimiliki ‘Class of ’92’. Tantangan utamanya kini adalah apakah Rosenior dapat memberikan stabilitas dan waktu yang cukup bagi para pemain muda ini untuk berkembang tanpa dijual sebelum mereka mencapai puncak performa mereka.

Related Post