Teknologi keselamatan canggih seperti pengereman darurat otomatis (AEB), sistem bantuan menjaga lajur (lane assist), dan kantung udara (airbag) telah terbukti secara signifikan menekan angka kecelakaan lalu lintas dan jumlah cedera pada skala populasi global.
Bukti dari studi-studi terkemuka seperti Euro NCAP serta penelitian empiris yang mendalam, menunjukkan adanya penurunan yang terukur pada jenis-jenis tabrakan tertentu ketika kendaraan dilengkapi dengan fitur-fitur keselamatan inovatif tersebut.
Meskipun demikian, angka kecelakaan di seluruh dunia masih tetap tinggi, dan fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial yang perlu dicermati lebih lanjut.
Baca Juga
Salah satu penyebab utama adalah penetrasi teknologi keselamatan yang belum merata di seluruh pasar otomotif global. Masih banyak kendaraan yang lebih tua, tanpa dilengkapi teknologi ini, yang terus beredar di jalan raya.
Selain itu, perilaku pengemudi manusia tetap menjadi faktor dominan dalam menyebabkan kecelakaan. Faktor-faktor seperti kecepatan berlebih, gangguan saat berkendara, dan mengemudi di bawah pengaruh alkohol masih menjadi penyumbang terbesar insiden lalu lintas.
Isu lain yang muncul adalah risiko “overreliance” atau ketergantungan berlebihan pada sistem. Pengemudi bisa saja mengabaikan kewaspadaan mereka karena terlalu percaya pada kemampuan sistem keselamatan otomatis, yang pada akhirnya dapat menimbulkan bahaya baru.
Lebih lanjut, munculnya integrasi teknologi baru dalam kendaraan menciptakan berbagai skenario keselamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menuntut adanya riset lebih mendalam dan penyusunan regulasi yang lebih adaptif untuk mengantisipasi potensi risiko.
Secara keseluruhan, meskipun teknologi keselamatan modern menawarkan bantuan yang sangat berharga dalam mencegah kecelakaan, teknologi tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan pentingnya perilaku berkendara yang aman dan penerapan kebijakan lalu lintas yang komprehensif.




