Waymo, pemimpin teknologi mobil otonom yang berada di bawah naungan Alphabet, baru saja menghadapi tantangan yang menyoroti kompleksitas masa depan transportasi tanpa sopir. Insiden ini terjadi pada akhir Desember 2025, ketika beberapa unit robotaxi Waymo mengalami mogok massal di jalanan San Francisco akibat pemadaman listrik yang melanda sebagian kota.
Gangguan listrik besar ini berdampak pada ribuan warga, menyebabkan lampu lalu lintas padam dan menciptakan kekacauan di jalanan. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah kendaraan otonom Waymo dilaporkan berhenti di persimpangan jalan, memicu kemacetan lalu lintas dan menimbulkan kekhawatiran publik mengenai kesiapan teknologi ini menghadapi situasi darurat yang tidak terduga.
Peristiwa ini memaksa Waymo untuk meninjau kembali strategi respons darurat mereka, terutama dalam menghadapi kondisi di luar skenario operasional normal. Meskipun Waymo menyatakan bahwa kendaraan mereka dirancang untuk menghadapi persimpangan tanpa lampu lalu lintas berdasarkan aturan dan pemetaan canggih, lonjakan kejadian selama pemadaman listrik menyebabkan sistem otomatisasi terpicu berulang kali. Hal ini mengakibatkan penumpukan proses yang memperlambat respon kendaraan, menyebabkan beberapa taksi berhenti lebih lama dari yang diperkirakan.
Baca Juga
Menanggapi insiden tersebut, Waymo berencana melakukan pembaruan signifikan pada perangkat lunaknya. Pembaruan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konteks yang lebih spesifik kepada kendaraan ketika terjadi pemadaman listrik berskala besar. Dengan pemahaman konteks yang lebih baik, diharapkan kendaraan otonom dapat mengambil keputusan yang lebih tegas dan cepat dalam situasi krisis.
Perusahaan menegaskan bahwa pembaruan perangkat lunak ini akan meningkatkan kemampuan robotaxi dalam menilai situasi darurat yang sebenarnya, bukan hanya mengandalkan data yang telah diprogramkan sebelumnya dalam kondisi normal.
Kejadian ini terjadi di tengah persaingan global yang semakin ketat dalam pengembangan teknologi kendaraan otonom. Berbagai perusahaan di Tiongkok dan Eropa juga berlomba untuk memperluas layanan robotaxi mereka ke jalan umum dalam skala yang lebih besar.
Meskipun teknologi kendaraan otonom telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir, insiden ini menjadi pengingat bahwa masih terdapat banyak tantangan teknis dan operasional yang harus diatasi sebelum kendaraan otonom dapat sepenuhnya diandalkan dalam berbagai situasi di dunia nyata.
Sebelumnya, Waymo juga pernah menghadapi sejumlah masalah terkait perangkat lunak yang berujung pada penarikan kembali (recall) dan pembaruan pada armada robotaksi mereka di Texas karena isu-isu lain dalam beberapa bulan terakhir. Pembaruan perangkat lunak terbaru ini secara khusus ditujukan untuk memperbaiki logika respons darurat kendaraan dalam menghadapi situasi ekstrem, seperti pemadaman listrik.
Waymo juga berencana untuk memperkuat dialog dengan regulator keselamatan dan pemerintah daerah. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan pengalaman dari situasi dunia nyata ke dalam algoritma kendali kendaraan.
Ke depannya, perusahaan optimis bahwa kombinasi antara data dari pengalaman di dunia nyata dan pembelajaran mesin akan membuat robotaksi mereka semakin andal, bahkan ketika menghadapi kondisi jaringan listrik yang tidak stabil atau perubahan lingkungan yang mendadak.
Perkembangan teknologi seperti ini menunjukkan dinamika nyata dari kendaraan pintar yang terus-menerus dipelajari dan diuji. Baik masyarakat maupun regulator kini semakin menyadari bahwa revolusi kendaraan otonom masih membutuhkan waktu untuk mencapai kesempurnaan.
Bahkan jika sebuah sistem dapat menangani jutaan mil perjalanan dalam kondisi normal, kejadian ekstrem yang mungkin terlihat sederhana, seperti pemadaman listrik, dapat menjadi ujian krusial bagi sistem keselamatan dan respons darurat kendaraan.
Oleh karena itu, Waymo kini dituntut untuk bergerak cepat dalam upayanya menjaga kepercayaan publik terhadap visi mobilitas tanpa sopir, yang selama ini digadang-gadang sebagai masa depan transportasi perkotaan.




