Kendaraan modern kini dilengkapi teknologi telematika yang mampu merekam berbagai data perjalanan. Mulai dari catatan kecepatan, intensitas pengereman, akselerasi, hingga rute yang dilalui, semua terekam.
Data ini memiliki beberapa tujuan utama. Di antaranya untuk meningkatkan fitur keselamatan, mendukung fungsi navigasi, dan menjadi dasar bagi produk asuransi berbasis perilaku atau usage-based insurance. Berbagai studi, termasuk dari IIHS dan laporan regulator, mengindikasikan bahwa telematika dapat menyajikan informasi krusial untuk peningkatan aspek keselamatan berkendara.
Melalui data yang terkumpul, telematika dapat memberikan umpan balik langsung kepada pengemudi. Tujuannya adalah untuk membantu mengurangi kebiasaan berkendara yang berpotensi membahayakan.
Baca Juga
Namun, pengumpulan data yang masif ini memunculkan berbagai persoalan terkait privasi. Muncul pertanyaan mendasar mengenai siapa saja yang memiliki akses terhadap data tersebut, bagaimana data itu disimpan, dan untuk tujuan apa data pribadi pengemudi dijual atau dibagikan kepada pihak ketiga.
Isu privasi data kendaraan ini juga menjadi perhatian regulator di berbagai negara. Di Amerika Serikat, misalnya, Federal Trade Commission (FTC) telah menyoroti praktik perusahaan otomotif yang mengumpulkan dan membagikan data konsumen tanpa adanya transparansi yang memadai kepada pengguna.
Menghadapi situasi ini, ada beberapa langkah praktis yang dapat diambil oleh pengguna kendaraan. Pertama, penting untuk selalu membaca dan memahami kebijakan privasi yang disediakan oleh produsen kendaraan.
Kedua, manfaatkan opsi opt-out atau penolakan pengumpulan data jika fitur tersebut tersedia. Hal ini memberikan kontrol lebih besar kepada pemilik kendaraan atas data pribadi mereka.
Selain itu, mendorong terciptanya kebijakan yang lebih kuat untuk memberikan kontrol lebih besar kepada pemilik kendaraan atas data yang dihasilkan oleh mobil mereka juga merupakan langkah penting. Ini akan memastikan bahwa data perjalanan digunakan secara etis dan transparan.




