Revolusi Chelsea: Liam Rosenior Siap Ubah The Blues 2026!

Author Image

Ais Nurdin

18 Januari 2026, 05:31 WIB

Chelsea menunjuk Liam Rosenior sebagai manajer baru, menggantikan Enzo Maresca. Keputusan ini didasari oleh ambisi jangka panjang klub di Stamford Bridge, terbukti dengan kontrak enam setengah tahun yang diberikan kepada Rosenior.

Pergantian ini bukan semata-mata karena performa Maresca, melainkan sebagai bagian dari strategi klub yang lebih besar. Liam Rosenior, dengan nama lengkap Liam James Rosenior, lahir pada 9 Juli 1984 dan kini berusia 41 tahun. Ia memegang lisensi kepelatihan UEFA Pro.

Rosenior dikenal sebagai pelatih modern yang mengedepankan aspek teknis. Perjalanan kariernya tidak dibangun dari popularitas sebagai pemain, melainkan dari keberhasilan taktis yang ia raih bersama tim-tim yang sebelumnya kurang diperhitungkan.

Pada periode 2022 hingga 2024, Rosenior memimpin Hull City dan berhasil mengangkat performa tim tersebut. Di bawah arahannya, Hull City menjadi tim dengan penguasaan bola tertinggi di Championship dan nyaris meraih promosi meskipun dengan anggaran yang terbatas.

Memasuki tahun 2024, Rosenior kemudian menangani Strasbourg hingga 2025. Strasbourg merupakan klub Prancis yang berada di bawah naungan BlueCo, grup yang juga memiliki saham di Chelsea.

Kesuksesannya dalam mengembangkan pemain muda di Prancis menjadi salah satu faktor yang membuat Chelsea tertarik untuk membawanya ke London Barat pada musim panas 2025. Ia dipercaya untuk menggantikan Enzo Maresca.

Keberhasilan Rosenior dikaitkan dengan pengembangan “Rosenior-ball,” sebuah filosofi taktik yang menitikberatkan pada positional play. Ia juga dikenal sebagai pelatih yang menuntut ketenangan dari kiper dan bek tengah dalam mengolah bola.

Dalam hal formasi, Rosenior tergolong pelatih yang fleksibel. Ia sering mengadaptasi taktiknya, seperti menggunakan formasi 4-2-3-1 atau 3-2-4-1 saat menyerang, sebuah gaya yang menyerupai pendekatan dan pelatih modern lainnya.

Salah satu keunggulan utama Rosenior adalah kemampuannya mematangkan bakat-bakat muda, khususnya pemain mahal yang dibeli Chelsea. Ia diyakini mampu mengubah talenta mentah menjadi pemain yang matang dan berpengaruh.

Kelebihan lain yang membedakan Rosenior dari pelatih Chelsea sebelumnya adalah kemampuannya sebagai komunikator ulung. Ia piawai dalam berbicara di hadapan media dan di ruang ganti pemain. Pendekatannya yang analitis, dengan pemanfaatan data GPS dan statistik secara mendalam untuk strategi pertandingan, juga menjadi nilai tambah.

Penunjukan Rosenior menandai pergeseran strategi Chelsea dari upaya meraih kesuksesan instan menjadi fokus pada pembangunan sistem jangka panjang. Keterkaitannya dengan sistem multi-klub BlueCo sejak di Strasbourg membuatnya dianggap sebagai pelatih yang paling memahami visi pemilik klub.

Perbandingan dengan Enzo Maresca

Keputusan manajemen Chelsea (BlueCo) untuk mengganti Enzo Maresca dengan Liam Rosenior didasari oleh beberapa alasan strategis yang berkembang di klub.

Meskipun Maresca membawa filosofi permainan yang khas, mirip dengan gaya , Chelsea di bawah kepemimpinannya kerap menunjukkan inkonsistensi, terutama dalam laga-laga krusial. Kegagalan mengamankan posisi empat besar Liga Primer secara meyakinkan pada musim 2024/2025 menjadi perhatian serius manajemen. Hal ini mendorong perlunya penyegaran taktis untuk memastikan tiket tidak terlewatkan lagi.

Salah satu kritik signifikan terhadap sistem Maresca di Chelsea adalah kerentanan lini pertahanan terhadap serangan balik cepat. Struktur inverted fullback yang sering diterapkan meninggalkan celah di lini belakang. Manajemen menilai Rosenior memiliki pendekatan yang lebih seimbang dalam fase transisi (rest-defense), yang selama ini menjadi titik lemah Maresca.

Liam Rosenior menunjukkan performa impresif saat melatih Strasbourg. Keberhasilannya mengelola skuad muda Strasbourg dengan filosofi yang selaras dengan visi pemilik Chelsea, Todd Boehly dan Behdad Eghbali, menjadikannya pilihan “internal” yang paling logis. Manajemen ingin pelatih yang telah teruji dalam ekosistem mereka sendiri.

Manajemen Chelsea juga merasa bahwa beberapa pemain mahal mereka belum berkembang maksimal di bawah skema Maresca yang cenderung kaku. Rosenior dikenal lebih fleksibel dan mampu memberikan peran khusus kepada pemain muda, seperti Estevao Willian atau Andrey Santos, agar potensi individu mereka dapat bersinar, bukan sekadar menjadi “robot” dalam sistem.

Terakhir kali Liam Rosenior berpraktik di sepak bola Inggris adalah di Plymouth. Tim asuhannya, Hull City, menelan kekalahan 0-1, yang mengakhiri ambisi mereka untuk menembus babak play-off Championship pada Mei 2024.

Pemecatan Rosenior beberapa hari setelah kekalahan tersebut mungkin sulit membayangkan bahwa ia akan menukangi Chelsea kurang dari dua tahun kemudian. Namun, Rosenior yang ambisius berhasil membuktikan diri. Ia membangun reputasi sebagai pelatih muda berbakat dengan membawa Strasbourg finis di peringkat ketujuh musim lalu.

Meskipun kinerjanya tergolong solid di klub lain yang dikendalikan oleh pemilik Chelsea, BlueCo, penunjukan Rosenior untuk menggantikan Enzo Maresca di Stamford Bridge tetap menjadi kejutan bagi banyak pihak.

Kini, pria berusia 41 tahun ini akan merasakan tekanan dan tuntutan tinggi di Chelsea. Laga debutnya di The Valley melawan Charlton akan menjadi momen perkenalan yang menarik di awal masa kepemimpinannya.

Rosenior menyadari sepenuhnya bahwa ia harus segera menunjukkan performa terbaik untuk membungkam keraguan. Kekalahan melawan Charlton, tim yang saat ini berada di peringkat 19 Championship, akan menjadi awal yang bencana bagi masa kepemimpinannya.

“Mendapatkan kesempatan ini di tahap karier saya sekarang memang luar biasa, tapi fokus utama saya bukan sekadar menjadi manajer Chelsea, melainkan menjadi manajer Chelsea yang menang,” ujar Rosenior. Ayahnya, Leroy, pernah membela Charlton pada tahun 1990-an.

“Kami harus langsung tancap gas di sisa musim ini,” tegasnya menjelang pertandingan melawan Charlton di The Valley, Sabtu (10/1).

Related Post