Max Verstappen: Luka 2018 Mengubahnya Jadi Juara Sejati

Author Image

Ais Nurdin

18 Januari 2026, 00:56 WIB

Max Verstappen, sang juara dunia Formula 1 yang dikenal dominan, ternyata pernah melalui periode penuh amarah dan kekecewaan di awal kariernya. Kesalahan demi kesalahan nyaris meruntuhkan kepercayaan dirinya, namun justru menjadi fondasi penting bagi kedewasaannya sebagai pembalap.

Musim 2018 menjadi catatan kelam bagi Verstappen. Ia harus berjuang tidak hanya melawan rival di lintasan, tetapi juga melawan dirinya sendiri. Periode sulit ini membentuknya menjadi pembalap yang lebih matang, mampu mengendalikan emosi, membaca batas, dan menemukan ritme yang membawanya menjadi sosok yang dingin, konsisten, dan mematikan di arena balap jet darat.

Awal Karier yang Penuh Rintangan

Max Verstappen memulai debutnya di Formula 1 pada usia 17 tahun bersama tim Toro Rosso pada tahun 2015. Promosi ke tim utama Red Bull datang setelah empat balapan pertama musim 2016, dan ia langsung mencetak kemenangan di debutnya bersama tim tersebut di . Meski berhasil meraih dua kemenangan lagi di akhir musim 2017, awal musim 2018 terasa sangat berat baginya.

Rentetan Insiden dan Frustrasi

Enam Grand Prix pertama di musim 2018 diwarnai berbagai insiden yang melibatkan Verstappen, termasuk tabrakan dengan rekan setimnya, Daniel Ricciardo, di Azerbaijan. Situasi ini memicu rasa frustrasi yang mendalam.

Verstappen sendiri mengungkapkan dalam podcast Red Bull’s Talking Bull bahwa tujuh hingga delapan balapan pertama di musim 2018 merupakan bagian tersulit dalam kariernya. Ia mengaku terjebak dalam lingkaran masalah akibat kesalahan yang kerap dilakukannya.

“Saya sering melakukan kesalahan sendiri, dan kemudian saya terjebak dalam lingkaran masalah,” ujar Verstappen. Ia menjelaskan bahwa usahanya untuk mendorong performa lebih keras justru tidak membuahkan hasil yang diinginkan, membuatnya semakin frustrasi dengan dirinya sendiri.

Titik Balik dan Pembelajaran Berharga

Perlahan namun pasti, nasib Verstappen mulai membaik seiring berjalannya musim. Ia berhasil meraih kemenangan di Austria dan Meksiko, serta menutup musim dengan total 11 podium. Titik balik penting baginya terjadi di Montreal.

Di sirkuit Kanada tersebut, Verstappen menunjukkan performa luar biasa. Ia menjadi yang tercepat di ketiga sesi latihan bebas dan berhasil finis di posisi ketiga pada balapan. Momen ini menjadi penanda bahwa segalanya mulai terasa “pas” baginya.

“Itu adalah saat di mana semuanya mulai terasa pas,” kenangnya.

Refleksi dan Filosofi Verstappen

Menengok kembali ke masa mudanya saat pertama kali menginjakkan kaki di Formula 1, Verstappen tidak memiliki keinginan untuk memberikan nasihat khusus kepada dirinya yang lebih muda. Ia bahkan tidak tertarik untuk mengetahui bagaimana dirinya akan berkembang kelak.

Verstappen percaya bahwa setiap kesalahan dan masa sulit yang dilaluinya memiliki peran penting dalam pembentukannya saat ini. Baginya, mengetahui segalanya sejak awal akan membuat hidup menjadi membosankan dan berpotensi menimbulkan kemalasan.

“Jika seseorang tahu segalanya sejak awal, itu akan membosankan dan bisa membuatnya malas,” katanya.

Ia berpendapat bahwa pembelajaran terbaik justru datang dari pengalaman langsung, termasuk melakukan kesalahan. Meskipun seseorang bisa diperingatkan untuk tidak melakukan suatu hal, terkadang belajar dari kesalahan diri sendiri adalah cara paling efektif untuk memastikan hal tersebut tidak terulang kembali. Masa-masa sulit inilah yang mengajarkan pelajaran berharga dan membentuk karakter kuat yang ia miliki di lintasan balap saat ini.

Related Post