Nama Jose Mourinho selalu identik dengan intrik, karisma, dan tentu saja, trofi. Pelatih berjuluk “The Special One” ini memiliki reputasi mentereng di kancah sepak bola Eropa, termasuk dua gelar Liga Champions UEFA yang pernah ia raih. Namun, seiring berjalannya waktu, ada satu pola yang kian sering menghantui perjalanan kariernya: kesulitan tim asuhannya melangkah jauh di fase gugur kompetisi elite tersebut.
Setelah sekian lama absen dari panggung termegah antarklub Eropa, kembalinya Mourinho ke Liga Champions sempat memicu ekspektasi tinggi dari banyak pihak. Penggemar sepak bola menanti apakah sang juru taktik berpengalaman ini mampu mengulang magisnya. Sayangnya, realita di lapangan berkata lain. Alih-alih mengukir kejutan atau melaju hingga babak-babak akhir, tim yang ia besut justru kembali tersingkir pada fase gugur, memperpanjang tren kurang menguntungkan bagi pelatih asal Portugal tersebut.
Fenomena ini bukan hal baru. Perjalanan tim Mourinho di Liga Champions dalam beberapa musim terakhir kerap terhenti lebih cepat dari dugaan, khususnya saat memasuki babak eliminasi. Sebuah ‘kebiasaan’ yang tampaknya sulit ia putus, bahkan setelah jeda panjang dari atmosfer Liga Champions. Ini menjadi sorotan tajam bagi pengamat sepak bola, yang mempertanyakan strategi dan daya saing tim Mourinho di tahapan krusial kompetisi.
Baca Juga
Tersingkirnya tim Mourinho di fase gugur kali ini seolah menjadi pengulangan skenario yang familiar. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Jose Mourinho dan Liga Champions tampaknya belum kembali harmonis. Perjalanan sang ‘Special One’ di kompetisi paling bergengsi Eropa ini se kembali menyisakan pertanyaan besar tentang kapasitas timnya untuk menembus persaingan ketat di babak-babak penentu.




