Dunia sepak bola Indonesia kembali bergemuruh dengan pengumuman resmi PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih kepala Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang baru. Pelatih asal Inggris ini secara tegas menyatakan komitmennya untuk membangun fondasi sepak bola Indonesia selama dua tahun ke depan.
Kontrak ini dilengkapi dengan opsi perpanjangan selama dua tahun, yang secara khusus dirancang untuk mendukung ambisi besar Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2030. Penunjukan ini menjadi sorotan utama dalam percaturan sepak bola nasional.
Dalam sesi perkenalan yang berlangsung di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, John Herdman tidak menampik adanya komunikasi intens dengan federasi dari negara lain. Ia mengakui bahwa negara-negara seperti Honduras dan Jamaika, yang saat ini memiliki peringkat FIFA lebih tinggi dari Indonesia, sempat mendekatinya untuk mengisi posisi pelatih kepala.
Baca Juga
Meskipun demikian, Herdman tidak tergiur dengan tawaran dari negara-negara dengan peringkat FIFA yang lebih mentereng. Baginya, karier kepelatihan bukan hanya tentang memilih tim dengan posisi tinggi, melainkan tentang tantangan untuk membangun sebuah peradaban sepak bola baru.
“Perjalanan karier saya hingga saat ini selalu berfokus pada upaya membangun. Saya lebih tertarik bekerja dengan federasi yang memiliki ambisi membara serta visi jelas untuk membawa negara mereka mencapai prestasi yang belum pernah terjamah sebelumnya,” ujar Herdman di hadapan awak media, Selasa, 13 Januari 2026.
Salah satu alasan teknis yang membuat Herdman mantap memilih Indonesia adalah ketersediaan infrastruktur dan materi pemain. Ia menilai bahwa Indonesia saat ini tidak lagi berada di titik nol.
Skuad Garuda memiliki talenta-talenta profesional, baik yang bermain di liga domestik maupun di luar negeri, serta didukung oleh kompetisi domestik yang semakin kompetitif. Menurut pengamatannya, semua elemen yang dibutuhkan untuk membentuk tim juara sebenarnya sudah tersedia di Indonesia.
Ia memandang bahwa tugasnya sekarang adalah meramu semua potensi tersebut menjadi satu kekuatan kolektif yang solid.
“Negara ini sebenarnya sudah sangat siap untuk melangkah jauh. Dengan ketersediaan pemain berbahan dasar profesional dan liga yang berjalan ketat, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak bisa bersaing di level tertinggi,” tegas pelatih yang dikenal sebagai motivator ulung tersebut.
Selain faktor teknis, aspek sosiologis menjadi daya tarik utama yang tidak dimiliki oleh negara lain. Herdman merasa takjub dengan bagaimana sepak bola menjadi “napas” bagi mayoritas penduduk Indonesia.
Dengan populasi mencapai 280 juta jiwa, ia melihat potensi pasar sekaligus dukungan moral yang luar biasa masif. Ia menyebutkan bahwa sekitar 80 hingga 90 persen masyarakat Indonesia memiliki kecintaan yang sangat fanatik terhadap sepak bola.
Bagi seorang pelatih, basis pendukung yang besar adalah bahan bakar utama untuk membangun mentalitas pemain.
“Coba bayangkan sebuah negara dengan penduduk 280 juta jiwa, di mana hampir seluruhnya sangat mencintai sepak bola. Dukungan masif seperti inilah yang saya cari. Inilah tempat terbaik untuk membangun sesuatu yang besar,” tambahnya dengan penuh semangat.
John Herdman kembali menekankan bahwa misinya di Indonesia bukanlah soal perbaikan peringkat FIFA semata. Meskipun peringkat adalah indikator kemajuan, kepuasan sejati baginya adalah mencetak sejarah baru.
Ia ingin Indonesia merasakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh generasi modern, yaitu tampil di panggung Piala Dunia. PSSI dan masyarakat Indonesia memiliki ekspektasi yang selaras dengan ambisi pribadinya.
Ia melihat celah dan peluang besar bagi Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2030, terutama dengan format baru yang memberikan kuota lebih banyak bagi wakil Asia.
“Ini bukan sekadar membandingkan apakah negara lain memiliki pemain yang lebih berkualitas atau peringkat yang lebih baik. Ada misi suci di sini, yaitu membawa Indonesia ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah modern. Itulah tugas utama saya,” pungkas Herdman.




