Herdman Datang, Janji ‘Gila’ Siap Ubah Sepak Bola Indonesia

Author Image

Ais Nurdin

18 Januari 2026, 02:31 WIB

PSSI akhirnya mengumumkan secara resmi penunjukan John Herdman sebagai pelatih kepala tim nasional Indonesia. Pelatih asal Inggris ini dikenal memiliki rekam jejak kesuksesan di Selandia Baru dan Kanada, dan diharapkan dapat membawa prestasi yang lebih baik dibandingkan era kepelatihan Shin Tae-yong.

Penunjukan ini menjadi penutup dari penantian panjang para pecinta sepak bola nasional. Herdman diharapkan mampu meneruskan tongkat estafet positif yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus membawa inovasi baru untuk kemajuan sepak bola Indonesia.

Peran di Balik Penunjukan Shin Tae-yong

Penulis artikel ini mengenang kembali perannya saat Shin Tae-yong pertama kali ditunjuk sebagai pelatih tim nasional. Sebagai Staf Khusus Menpora Zainudin Amali, ia turut serta dalam rapat penentuan pelatih.

Bersama dengan sahabatnya, seorang wartawan sepak bola senior, serta dalam rapat bersama Ketua PSSI Iwan Bule, Exco Iwan Budianto, dan Sekjen Ratu Tisa, penulis mengajukan Shin Tae-yong sebagai pilihan, menyaingi nama Luis Milla. Keputusan akhirnya jatuh pada Shin Tae-yong, yang kemudian dipilih oleh PSSI.

Kecintaan dan apresiasi terhadap kontribusi Shin Tae-yong tidak akan pudar. Ia diakui telah berkontribusi dalam perbaikan sepak bola nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, perjalanan sepak bola harus terus berlanjut ke depan, dan sikap kritis dari wartawan serta media sosial tetap harus dijaga.

John Herdman: Komitmen Total untuk Sepak Bola Indonesia

Dalam sebuah perbincangan santai menjelang pergantian tahun, seorang sahabat lama penulis berbagi pandangannya mengenai sepak bola nasional. Perbincangan yang awalnya direncanakan singkat tersebut ternyata berlangsung panjang dan mendalam.

Sahabat penulis ini memiliki keinginan untuk tetap anonim, menekankan pentingnya berbagi informasi dan pengalaman tanpa mencari pengakuan pribadi. Sikap seperti ini dinilai langka, terutama di kancah sepak bola nasional yang terkadang lebih dijadikan panggung pencitraan.

“Gua kenal JH dengan baik,” ujar sahabat tersebut, merujuk pada John Herdman. Ia juga mengaku memiliki kedekatan dengan Giovanni Christiaan van Bronckhorst (GvB), yang ditemuinya saat berada di Belanda.

Menurut sahabat penulis, Herdman memiliki komitmen yang lebih kuat untuk Indonesia. Hal ini terlihat dari keputusannya untuk pindah ke Indonesia bersama keluarganya. Berbeda dengan GvB yang hanya bisa berada di Indonesia selama enam bulan tanpa keluarga.

“Dari situ, kami sependapat bahwa JH lebih serius dan akan total,” tambahnya.

Penulis meyakini penunjukan John Herdman oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, adalah langkah yang sangat tepat. Dengan statusnya sebagai kepala keluarga, Herdman tidak perlu terpecah konsentrasinya antara keluarga dan timnas. Keduanya akan menjadi fokus perhatiannya sehari-hari.

“Hebatnya, JH bertekad akan belajar bahasa Indonesia!” tegas sang sahabat.

Hal ini mengingatkan pada sosok Toni Pogacnik, pelatih asal Yugoslavia yang sukses membawa timnas Garuda menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Sahabat penulis melanjutkan, “Dia mampu berbahasa Indonesia dengan baik.”

Kisah ini juga mengulang memori kesuksesan Anatoly Polosin yang membawa timnas meraih emas di SEA Games Manila 1991. Sebelumnya, ada Berce Matulapelwa yang nyaris membawa timnas ke Piala Dunia Meksiko 1986 dan meraih emas SEA Games Jakarta 1987. Polosin sendiri berusaha keras mempelajari bahasa Indonesia, khususnya berinteraksi dengan wartawan sepak bola.

Oleh karena itu, penulis mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengawal perjalanan John Herdman. Diharapkan ia dapat melanjutkan dan bahkan memperindah capaian yang telah diraih Shin Tae-yong. Penting untuk diingat bahwa sepak bola adalah sebuah proses yang tidak bisa dicapai secara instan.

Proses pendalaman sepak bola Indonesia oleh Herdman diharapkan akan berjalan lancar. Penulis juga berharap Herdman mampu mengkolaborasikan pemain lokal dengan diaspora secara optimal, sebuah tugas yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Salah satu hal yang patut disyukuri adalah tidak adanya lagi perbedaan pandangan terbuka di internal PSSI. Organisasi yang sukses membutuhkan persatuan dari para pemangku kepentingannya. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, namun seharusnya hanya dibahas dalam ruang rapat tertutup.

Bravo sepak bola nasional!

Related Post