Gaji Pelatih Timnas John Herdman Kecil, Kok Bisa Bumerang? Ini 3 Alasannya

Author Image

Ais Nurdin

19 Januari 2026, 16:35 WIB

PSSI secara resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia yang akan mulai menjabat pada tahun 2026. Keputusan ini disambut dengan antusiasme, mengingat rekam jejak Herdman yang gemilang bersama Tim Nasional Kanada.

Keberhasilan Herdman bersama Kanada memunculkan harapan besar bahwa ia mampu mereplikasi pencapaian tersebut bersama Skuad Garuda. Namun, muncul kekhawatiran bahwa gaji yang akan diterima Herdman bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kemajuan Timnas Indonesia.

Gaji John Herdman diperkirakan mencapai 40.000 USD per bulan, atau sekitar Rp668 juta. Angka ini terbilang jauh lebih rendah dibandingkan dua pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert, yang masing-masing menerima gaji sekitar Rp2 miliar dan Rp1,7 miliar per bulan.

## Gaji Lebih Kecil, Potensi Kendala bagi Timnas Indonesia

Perbedaan gaji yang signifikan ini diduga lantaran keterbatasan anggaran PSSI, yang sebagian tersedot untuk membayar denda pemutusan kontrak pelatih sebelumnya. Penunjukan Herdman dinilai sebagai pilihan yang lebih realistis, terutama jika dibandingkan dengan kandidat lain seperti Giovanni van Bronckhorst yang memiliki standar gaji jauh lebih tinggi.

Meskipun kebijakan ini menguntungkan dari segi finansial bagi PSSI, ada kekhawatiran bahwa hal ini dapat menimbulkan efek samping negatif terhadap performa Timnas. Analisis dari berbagai sumber menunjukkan ada tiga potensi kendala yang muncul akibat kebijakan penggajian John Herdman yang lebih rendah.

### Tiga Potensi Kendala Penggajian John Herdman

Pendanaan yang ketat memaksa John Herdman hanya dapat membawa tiga hingga empat asisten pelatih asing. Sisanya, tim kepelatihan harus diisi oleh pelatih lokal.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai pengembangan tim, terutama dalam aspek-aspek spesifik seperti analisis permainan atau spesialisasi lini tertentu. Kualitas pelatih lokal yang belum tentu sebanding dengan standar Eropa dapat menghambat kemajuan tim.

Selain itu, terdapat indikasi bahwa John Herdman akan lebih banyak menghabiskan waktu di Indonesia. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa ia mungkin tidak memiliki anggaran yang memadai untuk terbang ke Eropa guna memantau langsung pemain-pemain abroad.

Kemungkinan besar, Herdman hanya bisa memantau perkembangan mereka melalui siaran streaming. Ini tentu berbeda dengan kehadiran langsung yang memungkinkan pemantauan yang lebih mendalam dan personal.

Terakhir, meski John Herdman menyatakan antusiasme terhadap proyek unik di Indonesia, ada potensi rasa frustrasi muncul di kemudian hari. Hal ini bisa terjadi jika ia merasa beban kerja yang besar tidak sebanding dengan apresiasi finansial yang diterimanya.

Kendati demikian, PSSI tampaknya telah mempertimbangkan berbagai faktor dalam mengambil keputusan ini. Komitmen dan visi John Herdman diharapkan mampu menjadi katalisator positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia ke depannya.

Related Post